Langsung ke konten utama

Postingan

Bagian 4. “Aku Mencitaimu, Suamiku”

Bocah-bocah berlarian mengitari ayahnya yang sedang mengantri tiket bioskop. Sesekali berhenti, ketika yang paling kecil protes pada kakak-kakaknya. Aku sendiri sedang duduk bersandar di dinding sambil mengelus perut buncitku. Sudah menginjak 5 bulan, dan 4 bulan lagi bidadari kecil akan hadir di tengah-tengah kami. Lengkap sudah kebahagiaanku. Dari jauh aku memandang sosok suamiku dari belakang. Suamiku menoleh kebelakang dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya dengan kehangatan yang luar biasa. Ungkapan syukurku yang tidak bisa kuutarakan. Sepasang muda-mudi dewasa berjalan di depanku, bergandengan tangan erat gaya lock fingers. Membuatku menerawang jauh kembali ke masa lalu, mengingatkanku pada Mas Jaya dulu. Meski aku jauh lebih tua darinya, aku memanggilnya dengan hormat “Mas”. Tidak penting tapi membuatku merasa dilindungi saat memanggilnya. Kemanapun kami pergi saat berjalan berdua, Mas Jaya tidak pernah melepaskan tangannya. Kadang dia membawa genggaman tangan ka...

Bagian 3. Menambatkan Jangkar Hati

“Ayo … kalau berani nyusul ke sini”.  “Disana pasti membosankan.  Sitting and listening, ordinary activities”, tak lupa kutambahkan icon “ngikik”. “Yup, its boring here” ketik Jaya. “Hm … tidak menyesal?” Jaya bertanya. “Menyesal kenapa?”, tanyaku. “Kalau aku benar-benar menyusulmu ke Surabaya?” lanjut Jaya. “It's OK. Kan mengunjungi teman”, dalam hatiku sebenarnya berbunga-bunga. Niat, meskipun besar kemungkinan tidak terjadi, pada akhirnya tetap berhasil membuat paru-paruku berkembang terisi udara kebahagiaan. “Bagaimana jika satu-satunya alasanku menyusulmu ke Surabaya karena ingin bertemu denganmu” balas Jaya. Handphone hampir terlepas dari genggaman, kursi tak sanggup menahan gejolak hati yang tiba-tiba tak karuan hingga hampir terjatuh. Untungnya di seminar kali ini aku duduk di bagian belakang. Tak banyak yang memperhatikan betapa memerahnya wajahku membaca pesan Jaya. “Are you ok?” ketik jaya dengan jeda sekitar 2 menit. “Im not ok. Kamu gila H...

Bagian 2. Tak Kuasa Menolak Pesona

Sampai di pintu keluar restauran hotel, sosoknya benar-benar menghilang. Syukurlah, aku tak menemukan dia, hiburku. Di mulut berusaha bersyukur, tapi di hati ingin menemukan meski hanya melihat punggung tegapnya. Kembali terduduk lemas, sambil berpikir keras. Puzle puzle memori berkelebat ke sana ke mari. Saling bermunculan kemudian tenggelam lagi. Menari nari tanpa irama penggiring. Mana yang kusuka itulah yang kunikmati, yang tidak kusuka kuletakkan di ruang memori yang lain, tersembunyi. Seperti halnya ketika tangan saling berjabat dan mengucapkan 'Semoga dilancarkan menuju pelaminan ya Jaya'. Mendesah kemudian mengulum senyum sinis. 'Membuang buang tenaga dan pikiran', hardikku pada diriku sendiri. Seharusnya aku menikmati malam ini. Malam di kota penuh kenangan. Kota Mantan Yang Berhati Nyaman. Kuputuskan untuk menggunakan kakiku agar lebih bermanfaat malam ini. Tidak mengapa sendirian, sembari mengingat masa lalu. Itu lebih baik, daripada berha...

Bagian 1. Mencari Warna

Sekali...dua kali... Menurutku, aku sudah menangkap basah dirimu memandangiku.  Sejak kejadian menitipkan handphone tadi sore, perasaanku seperti ada yang salah. Semoga salah, karena ini di luar rencana. Rencanaku adalah untuk berlibur bukan untuk menemukan sesuatu yang sudah lama hilang di hati. Tidak...tidak. Masih betah dengan hitam putihnya hati, belum siap menerima aneka warna di hati. Sudah malas lagi bergelut dengan perasaan suka duka oleh cinta. Tangisnya itu yang membuat jengah dan capek fisik batin. Nila setitik rusaklah air susu sebelanga. Yes, manisnya cinta tidak terasa kalau sudah sekali tersakiti. Egois memang. Ini masih harus belajar terus. Belajar mengerti, memahami dan memaafkan.Meskipun di lubuk hati ini, tak ingin selamanya sendirian. Sudah akan melewati angka 35 tahun. Bagiku cinta itu seperti buah simalakama. Disatu sisi manis, disatu sisi lainnya pahit. Setiap kali gagal selalu berulang sakitnya...Mungkin belum bertemu yang tepat, begitu hiburku....

Manusia ... Salah ... Maaf ... Memulai

Wajar kalau sering kepleset ngomong. Khilaf istilahnya. Antara hati, nafsu dan otak tidak sinkron. Antara tiga organ tersebut ndak tahu siapa yang menang. Soalnya bukan arisan kocokan apalagi undian cabutan (jaman SD). Cepet2an, belum campur tangan pihak ketiga a.k.a devils. Begitu terucap atau berbuat, penyesalan datang, tapi masih pengen lagi dan lagi. Siklusnya berulang. Pinjam kiasan seperti roda berputar, baru stop berputar kalau ada yang bocor, kempes atau rusak jerujinya. Syukurlah...diciptakan kata 'MAAF'. Vertikal dan horisontal. Kurang apa penawar dalam hidup ini. Segala salah bisa disiram bersih hanya dengan 'MAAF' . Tapi, repeat mode dari 'MAAF' bisa membuat antipati. Semacam reaksi kebal hati. Ini yang bahaya. Syukurnya lagi antipati tidak berlaku bagi hubungan vertikal (kecuali satu bagi yg ngerti). Ini yang terpenting, karena akhir tujuan hidup adalah menuju kepadaNya. Sedangkan pemaaf adalah salah satu sifatNya. Secara horisontal, keb...

Jika Kita Mencintai Seseorang

"Menikah itu nasib, mencintai itu takdir.  Kamu bisa berencana menikahi siapa saja, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa"  (Sujiwo Tejo) Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta … Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kita masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kita masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan ktia tidak mencintainya, jika kita masih tidak dapat melupakannya. Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kita terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan itu sekarang selagi ada hayatnya. Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu ber...

Ganbate ... Masa-Masa Kritis Pengerjaan TA

Tulisan ini terpaksa saya buat di masa-masa kritis pengerjaan tugas akhir, sebagai penyemangat dan pengingat "Kenapa saya bisa sampai tahap ini?".  فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذ "Nikmat tuhanmu yang mana engkau dustakan". Tidak hanya satu atau dua atau tiga kali kalimat tersebut tercantum di satu surat, namun 31 kali. Masya Allah .. sellau diseru untuk bersyukur di setiap waktu, seperti saat ini.  Saya anak pertama dari empat bersaudara. Sampai umur 24, saya mengganggap hidup saya tidaklah mudah. Sebagai anak pertama ada beban berat, should be the best. Meskipun kata saudara, merekalah yang terbebani agar sebaik saya, dan saya yang lebih disayang karena menjadi kebanggaan. Sungguh, tidak mudah menjadi hal itu .. (klarifikasi buat saudari2 ku ^^).  Menjalani tahun di TK, menjadi idola papan menengah (bukan papan atas). Masuk SD, enam tahun dijalani, selalu masuk rangking 1 atau 2. Lomba cerdas cermat, baris berbaris, paduan suara dan qosaidahan :))....