Langsung ke konten utama

Postingan

Islamic Center NTB: Masjid Hubbul Watan

  Masjid ini menjadi salah satu kebanggan masyarakat NTB. Masjid dibangun dan diresmikan pada saat kepemimpinan TGH Muhammad Zainul Majdi (tahun 2013). Konon kabarnya selain dari APBD, masjid ini juga hasil sumbangsih berbagai pihak, baik dari masyarakat lombok sendiri maupun masyarakat internasional. Awal pembangunan masjid dengan master plan yang ajib sekali, yaitu menjadikan masid tersebut sebagai pusat ibadah sekaligus wahana ilmu pengetahuan dan Pendidikan Islam di NTB. Impian yang wah dan InsyaaAllah, atas seijin Allah semoga dapat dikabulkan. Ini juga jadi alasan utama saya dan “satu2nya” alasan pengen punya rumah di Udayana. Kabar didirikannya IC tersebut sudah lama terdengar sejak kepindahan saya dari Jakarta tahun 2010. Kalau tidak salah tahun 2010 masih lobi2 pembebasan tanah dan tukar guling sekolah di lokasi tersebut. Sederhana cita2 saya “Kalau sudah tua pengen punya rumah dekat Islamic Center. Kelak bersama suami bisa sering2 datang ke sana subuhan dan kajian il...

Ingatlah Ini ... Agar Selalu Terjaga

"suatu saat jika ada tergoyahkan hatimu oleh bisikan setan, lihatlah kembali ke belakang. bukan untuk mundur, tapi untuk memajukan langkahmu menjadi lebih baik dengan mengingat pelajaraan berharga yang pernah kamu hadapi" Aku ... aku minta maaf padanya. beberapa hari ini tergeletak tak perdaya karena sakit tak kunjung usai mendera kepala. dia tersenyum "tidak ada yang perlu dimaafkan". elus lembutnya membuatku terkantuk kembali. aku bahagia, dia yang selalu kupuja bisa tesenyum tulus setelah sekian lama peristiwa yang membuat senyumnya tak jelas. antara cerah bercahaya atau kelabu dirundung sedih. 03.2019 sudah sebulan ini terbiasa mendengar isak tangis yang tiba-tiba. kadang saat pagi aku melihat tumpukan tissue di tempat sampah. sesak rasanya melihat pemandangan ini. aku mencoba bersabar demi dia. kadang, tiba-tiba dingin menyeruak diantara kami. lalu terlihat matanya menerawang jauh. aku tak berani menyela lamunannya. aku tahu dia hancur, meskipun sebena...

Jangan Malu, Pinanglah Dia jika Aku Telah Tiada

Semoga Kakanda tidak membaca ini ... 🤗🤗🤗 Bukan karena lalu beliau marah, tapi pasti akan sedih seharian ... Lanjut hari berikutnya jika tidak ada jurus2 maut rayuan dari penulis. Wahai Wanita2 mulia pembaca blogger yg kini kian tidak diminati lg oleh nitijen. 😅😅😅 Laksanakanlah pesan ini jika Aku (si penulis) ini telah tiada.  Kuperkenalkan, Seorang lelaki, Seorang Suami, dan Seorang Ayah. Memiliki nama Wiro Santoso Waas.  Sebulan ini, saya berani menjamin, beliau adalah lelaki baik. Ketika badai menerjang, beliau sudah menujukkan dirinya mampu bertahan melebihi karang yg terhantam ombak beratus ratus tahun lamanya. Yang beliau ajarkan adalah kesabaran dan ke istiqomah an memanjatkan doa. Beliau tidak membalas kejahatan orang lain apalagi membuka aib nya ke khayalah umum. Beliau berpikir panjang apa2 akibat jika dibalas atau melaksanakan hajat yg lebih kejam. Dia mengajarkan bahwa dendam, marah dan sakit hati hanya akan membuat pribadi sama jahatnya. Sehingga ket...

Wanita ... Pribadi Mbulet Nan Mbingungi

Suatu malam kami saling melempar tanya, salah satunya : Me : Mas ... Seandainya Mas diberi dua pilihan, adik dan wanita sholehah lainnya yg lebih cantik dan halus budi pekertinya. Siapakah yg Mas pilih?  Mas : Hm, sebelum dijawab. Udah beli pisang belum buat pisang goreng?  Me : Belum Mas : ntar nitip mamak saja. Jagonya beli. Me : Eh ndak usah. Ndak enak juga. Biar adik yg beli. Tapi jangan protes kalau adik ndak bisa nawar. 2.000 kita bayar buat  parkir, tapi buat mereka untuk isi perut. InsyaaAllah gampang kita kumpulin 2.000 setiap jam.  Mas : itulah kenapa Mas pilih adik. Bisa jadi lebih cantik paras wanita lain, lebih lembut... Tp tidak ada yg punya hati seperti adik. Me : huhahahhahaha .... gombal... belgedes Seberapa sering sih melemparkan pertanyaan kritis mengundang cemburu diri sendiri ke pasangan? salah satu yang menjadi bola panas adalah pertanyaan seperti diatas. Ragu kah dengan jawaban Suami? Pasti sebagaian besar menjawab "Iyaaaaaaaa" Wa...

“Berhemat dengan Legundi di Hari Raya – Bunda Bahagia, Anak tetap Senang”

Keputusan pulkam Lebaran ke Malang tahun ini memang terkesan mendadak. Diantara kerinduan pulkam karena setahun sebelumnya belum diberikan kesempatan serta perhitungan budget untuk renovasi rumah, akhirnya sepakat menggunakan KMP Legundi. Malam Selasa langsung memutuskan pulkam ke Jawa setelah membaca berita di website koran lokal bahwa ada keberangkatan kapal Legundi di hari Rabu esoknya. Sebelumnya berencana naik pesawat di hari H Lebaran dan berdiskusi tentang kemungkinan balik Mataram naik kapal bersama anak semata wayang - Oza.   Oza sendiri antusias mendengar liburan menggunakan kapal laut. Selain alasan “baru pertama kali”, Oza merasa lebih aman karena bekal kemampuan renang yang dikuasainya. Mengertilah maksud saya …^^ Alhasil packing barangpun mendadak, dimulai malam jam 11 sampai menjelang dini hari. Tak lupa mencari tambahan informasi dari internet khusunya di http://www.indonesiaferry.co.id    tentang reservasi tiket KMP Legundi. Perasaan was-was lum...

Bagian 4. “Aku Mencitaimu, Suamiku”

Bocah-bocah berlarian mengitari ayahnya yang sedang mengantri tiket bioskop. Sesekali berhenti, ketika yang paling kecil protes pada kakak-kakaknya. Aku sendiri sedang duduk bersandar di dinding sambil mengelus perut buncitku. Sudah menginjak 5 bulan, dan 4 bulan lagi bidadari kecil akan hadir di tengah-tengah kami. Lengkap sudah kebahagiaanku. Dari jauh aku memandang sosok suamiku dari belakang. Suamiku menoleh kebelakang dan tersenyum kepadaku. Aku membalas senyumannya dengan kehangatan yang luar biasa. Ungkapan syukurku yang tidak bisa kuutarakan. Sepasang muda-mudi dewasa berjalan di depanku, bergandengan tangan erat gaya lock fingers. Membuatku menerawang jauh kembali ke masa lalu, mengingatkanku pada Mas Jaya dulu. Meski aku jauh lebih tua darinya, aku memanggilnya dengan hormat “Mas”. Tidak penting tapi membuatku merasa dilindungi saat memanggilnya. Kemanapun kami pergi saat berjalan berdua, Mas Jaya tidak pernah melepaskan tangannya. Kadang dia membawa genggaman tangan ka...

Bagian 3. Menambatkan Jangkar Hati

“Ayo … kalau berani nyusul ke sini”.  “Disana pasti membosankan.  Sitting and listening, ordinary activities”, tak lupa kutambahkan icon “ngikik”. “Yup, its boring here” ketik Jaya. “Hm … tidak menyesal?” Jaya bertanya. “Menyesal kenapa?”, tanyaku. “Kalau aku benar-benar menyusulmu ke Surabaya?” lanjut Jaya. “It's OK. Kan mengunjungi teman”, dalam hatiku sebenarnya berbunga-bunga. Niat, meskipun besar kemungkinan tidak terjadi, pada akhirnya tetap berhasil membuat paru-paruku berkembang terisi udara kebahagiaan. “Bagaimana jika satu-satunya alasanku menyusulmu ke Surabaya karena ingin bertemu denganmu” balas Jaya. Handphone hampir terlepas dari genggaman, kursi tak sanggup menahan gejolak hati yang tiba-tiba tak karuan hingga hampir terjatuh. Untungnya di seminar kali ini aku duduk di bagian belakang. Tak banyak yang memperhatikan betapa memerahnya wajahku membaca pesan Jaya. “Are you ok?” ketik jaya dengan jeda sekitar 2 menit. “Im not ok. Kamu gila H...